Sejarah mencatat, Desa Rantau Baru telah tiga kali berpindah lokasi permukiman sebelum akhirnya menetap di wilayahnya yang sekarang — sebuah perjalanan panjang yang penuh warna dan kejayaan.
Sejarah Desa | Dari Dusun Tua hingga Rantau Baru
Pada mulanya, masyarakat Rantau Baru bermukim di kawasan yang dikenal dengan nama Dusun Tua, terletak jauh di hulu kampung yaitu di Antau Sentoghok. Pada masa itu, wilayah ini dipimpin oleh seorang Datuk Pucuk Pimpinan Negeri bergelar Batin Sibokol-Bokol, yang tunduk di bawah kedaulatan Kerajaan Pelalawan.
Perpindahan kedua membawa masyarakat ke daerah Antau Kobun, yang kini dikenal sebagai kawasan pekuburan desa. Era ini menjadi masa keemasan bagi Rantau Baru. Berkat jalur transportasi sungai yang dikenal sebagai Jalur Sutera, Antau Kobun menjadi persinggahan ramai bagi pedagang dan utusan dari berbagai kerajaan, termasuk Kerajaan Pagaruyung hingga niagawan dari Sumatera Barat yang hendak berdagang ke Malaysia dan Singapura. Keramaian inilah yang membuat kampung ini dijuluki 'Malako Kocik', karena kesibukannya menyerupai Kota Melaka di Semenanjung Malaysia. Pada masa ini pula, gelar pemimpin negeri berganti dari Batin Sibokol-Bokol menjadi Datuk Satidiraja.
Perpindahan ketiga membawa masyarakat ke lokasi yang kini menjadi Desa Rantau Baru, yang dahulu disebut Antau Baghu-baghu — merujuk pada kawasan rantau yang ditumbuhi banyak pohon jenis baru. Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, sistem pemerintahan pun beralih dari Datuk Satidiraja ke seorang Wali Kampung, meski kepemimpinan tetap dipegang oleh keturunan suku Melayu Tuk Tuo yang dianggap sebagai suku tertua di desa ini.
Sepanjang perjalanannya, desa ini mencatat sejumlah peristiwa penting: masuknya harimau ke desa pada 1953 yang sempat menimbulkan kegaduhan warga, kesepakatan pembukaan lahan dengan Desa Sei Kijang pada 1982, hingga terpilihnya kepala desa pertama di luar suku Melayu Tuk Tuo pada 1998. Pada 2005, sebagian wilayah Rantau Baru di Desa Sei Kijang memekarkan diri menjadi Desa Kiap Jaya seiring terbentuknya Kecamatan Bandar Sekijang.
Kisah panjang ini menjadikan Rantau Baru sebagai salah satu desa dengan akar sejarah terdalam di Kabupaten Pelalawan — sebuah identitas yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerusnya.